Yang Diganti Sama Persis

Oleh: Bahtiar HS.Saya masih ingat betul hari dan tanggal kejadian ini. Sabtu, 14 Mei 2011.

Mobil yang hendak kami sewa itu, sesuai kesepakatan, telah diantarkan ke rumah sebelum jam enam pagi. Sebuah Xenia tipe Li Deluxe VVT-i 1000cc, warna silver dengan tulisan “Deluxe” putih di atas dasar hitam di pintu samping. Masih terbilang baru saya rasa.

“Apakah ini yang diminta?” kata saya sambil mengangsurkan copy sertifikat rumah kepada anak muda yang mengantar mobil itu. Kertas itu merupakan bagian dari kelengkapan dokumen sewa-menyewa yang diminta; hal yang membuat saya tiba-tiba merasa seperti dicurigai hendak membawa lari mobil itu ke ujung dunia.

Anak muda itu sejenak memeriksanya. Ia membolak-balik halaman demi halaman seperti ingin mencari sebuah nama di antara ribuan kata. Akhirnya ia tersenyum. “Ya, ini yang kita perlukan, Pak?”

Saya merasa lega. Setidaknya acara membongkar dua lemari sepagi tadi bersama ibunya anak-anak untuk mencari kertas ‘berharga’ itu tidak sia-sia. “Sudah cukup, kan?”

“Kurang KTP, Pak. KTP asli.”

“Lho, Mas ini gimana? Kalau KTP asli Anda ambil, lalu saya pegang apa selama perjalanan?” Sewa mobil tidak masuk akal!

“Oh, kalau gitu, SIM C asli saja, Pak. Punya, kan?”

“Kenapa sih harus menyerahkan KTP atau SIM asli segala? Bahkan nanti sepeda motor saya dibawa juga, ya?”

Anak muda itu tersenyum ramah. “Begitulah persyaratannya, Pak. Di mana-mana juga sama.”

Kalau SIM C sih tak masalah. Saya lalu membuka dompet dan mengeluarkan SIM C itu. “Sudah tidak ada yang lain lagi, kan?”

Sejenak anak muda itu mengingat-ingat. “Oh, ya? KK asli, Pak!”

“KK asli? Buat apa, Mas? Kan sudah kita kasih fotokopinya semalam bersama fotokopi KTP dan pembayaran PBB terakhir?”

“Ya, tapi manajemen minta KK yang asli, Pak.”

Kali ini saya mulai agak dongkol. Ribet banget sih urusan menyewa mobil ini? Ibunya anak-anak yang sedang mempersiapkan dua buah tas besar berisi baju perjalanan sekeluarga ke Ponorogo pun tampak kaget.

“Lho kan sudah dikasih fotokopinya?” tanyanya penuh keheranan. “Buat apa sih minta yang asli? KK asli pasti ada di rumah ini. Tapi ya harus nyari dulu.”

Dibantu istri, saya lalu membongkar tumpukan dokumen di lemari kamar depan. Satu persatu kami buka dan periksa. Seingat saya dokumen itu baru saja dipakai istri saya untuk suatu keperluan. Tetapi begitulah dokumen: ia tak ada justru ketika dibutuhkan!

Lima menit berlalu. Kertas sialan itu belum juga saya temukan. Dua tas besar masih kedodoran belum selesai dipersiapkan. Anak-anak minta sarapan. Adik Arzaq yang baru lahir belum genap sebulan sedang bersiap dimandikan ibunya. Sementara Luluk, adik saya, sedang membantu menangani anak-anak ini itu. Saya sendiri masih sarungan sejak habis Shubuh tadi.

Akhirnya istri lebih dulu tak tahan (darah Sampang-Bangkalan mengalir dalam tubuhnya, kalau-kalau itu ada hubungannya!) Ia keluar menemui anak muda itu. Saya mengikuti di belakangnya. Meski istri bilang saya suami yang sabar, tapi sesungguhnya saya pun dongkol juga sejak tadi.

“Mas! Nggak bisakah tanpa KK yang asli?” teriakan istri saya memecah pagi yang seharusnya ceria itu. “Kan sudah ada fotokopinya? Kenapa kemarin malam nggak sekalian diminta? KK asli itu ada di rumah ini, tapi ya perlu waktu untuk mencarinya. Saya belum nyiapkan anak-anak segala! Ngrepoti saja!”

Si anak muda masih dengan tersenyum menjawab. “Ya, begitulah persyaratannya, Ibu. Saya hanya menjalankan perintah dari kantor.”

Adik saya menimpali. Dialah yang menyewa mobil dari perusahaan anak muda itu. Langganan kantornya. “Mas, kalau repot gitu, udah ganti saja penyewanya kantor saya seperti biasa. Jadi nggak perlu dokumen apa-apa dari Mas Bahtiar, kan? Kan sudah jadi langganan!”

“Tapi sewa mobil ini sudah atas nama Pak Bahtiar, Bu. Jadi, kalau ingin mengubah, Ibu mesti menghubungi kantor saya.”

“OK, saya hubungi Bu KTN pimpinan Anda!”

Adik saya lalu mengeluarkan HP dan memencet sebuah nomor. Lima detik. Sepuluh detik. Tak ada tanda-tanda panggilannya diterima. “Kok HP Bu KTN gak bisa dihubungi, sih?” Akhirnya dia menulis SMScomplain.

“Mas,” saya berusaha melunak. “Kenapa sih pakai yang asli segala? Tujuan menyerahkan KK asli apa sih? Kan sudah ada copy sertifikat rumah, SIM C asli, bahkan sepeda motor saya Anda bawa juga? Apa nggak cukup?”

“Ya, apa Mas nggak percaya dengan kami? Apa kami dikira mau melarikan mobil ini?” semprot istri saya.

“Tapi memang demikianlah persyaratannya, Pak. Saya tak bisa menyerahkan mobil itu kalau persyaratannya kurang. Karena penyewaan Bapak kosongan tanpa sopir.”

“OK. Kalau memang nggak bisa, saya batalkan saja sewa mobilnya!” kata saya mengakhiri ‘perang’ ini.

Dengan bersungut-sungut, anak muda itu menjawab, “Ya, nggak apa-apa jika Bapak membatalkan penyewaan mobil ini. Saya akan bawa balik ke kantor.”

“Ya, gitu saja. Saya akan cari alternatif yang lain!”

Anak muda itu pun mengembalikan dokumen dan ngeloyor pergi. Ia sempat mengangkat HP ketika ada panggilan. Kelihatannya dari pimpinannya yang gagal dihubungi adik saya. Tetapi sejenak kemudian dia tetap masuk ke dalam mobil.

Xenia itu pun lalu pergi meninggalkan tempat parkir depan rumah.

***

Saya lekas berganti celana panjang dan menjalankan sepeda motor. Nggak lucu jika acara ke Ponorogo batal hanya karena tidak ada mobil. Anak-anak sudah siap. Di kepala mereka sudah terbayang akan bertemu dengan mbah, paklik, bulik, dan saudara-saudara lainnya (keponakan saya) di kota reog itu. Azril bahkan sudah membicarakan game apa saja yang akan ia mainkan di komputer buliknya di Ponorogo. Saya tak ingin membuat mereka kecewa.

Persewaan mobil di jalan besar dekat rumah adalah tujuan saya. Sudah kenal sebelumnya mungkin akan mempermudah urusan sewa-menyewa ini. Tapi saya sangsi akan mendapatkan “harga langganan”, karena belum pernah sekali pun menyewa mobil di tempat itu. Persetan dengan biaya sewa! Yang penting mendapatkan mobil meski dengan harga lebih tinggi daripada membuat anak-anak kecewa. Satu juta rupiah lalu terbayang di pelupuk mata saya.

Tiba di sana, persewaan mobil itu ternyata masih tertutup rapat. Terlalu pagi, memang. Belum genap jam tujuh. Saya mendadak lemas.

Sebenarnya pada hari Jumat kemarin saya sudah memutuskan untuk pergi sendiri ke Ponorogo naik bis umum. Tidak enak memang, karena acara di sana adalah pernikahan adik bungsu saya. Seharusnya saya datang full team dengan keluarga. Tetapi apa mau dikata, saya sudah berusaha pinjam mobil dua orang teman. Namun, dua-duanya sedang dipakai. Saya maklum. Ada harpitnas tanggal 16 Mei, karena Selasa, 17 Mei libur nasional (Waisak). Pasti mereka punya acara keluarga masing-masing. Membawa 7 anak kecil-kecil naik bis umum pastilah akan merepotkan baik secara fisik maupun psikis; terutama mendengar omongan orang. Daripada menyewa mobil pribadi 4 hari menghabiskan lebih dari 800 ribu rupiah — di luar bensin dan tetek-bengek lain, lebih baik uang itu dihemat.

Saya sudah memutuskan hal itu dan memberitahu keluarga Ponorogo. Tetapi Luluk, adik saya, bersikeras semua sebaiknya datang. Ini acara keluarga. Ia berjanji menyewakan mobil. Saya yang akan pegang setir. Maka demikianlah hingga kejadian tak mengenakkan pagi ini terjadi.

Di pinggir jalan ini saya memutar otak. Saya tak boleh pulang ke rumah dengan tangan kosong. Mengingat-ingat kembali siapa teman yang bisa direpoti, saya akhirnya mendapatkan satu nama. Mas SB. Lalu saya mencoba menghubunginya.

Ia sedang ada acara di sekolah anaknya. Lalu saya utarakan maksud saya untuk meminjam mobilnya, jika tidak dipakai. Tanpa berpikir panjang, Mas SB mempersilakan.

“Empat hari lho Mas? Bisa?” tanya saya.

Monggo dipakai saja. Saya tak ada acara. Semoga perjalanannya menyenangkan bersama keluarga,” jawabnya melalui SMS.

Alhamdulillah. Saya mengucap syukur tiada habis. Cepat-cepat saya pulang. Jangan sampai adik saya berhasil melobi persewaan itu dan membuat Xenia itu kembali ke rumah.

Ketika sampai di rumah, istri saya laporan. “Ini KK aslinya sudah ketemu!” katanya dengan nada kesal. Rupanya ia masih tetap mencari kertas sialan itu. Karena itulah syarat kami dapat mobil sewaan.

“Wis, batalkan sewa mobil dengan Bu KTN! Aku sudah dapat pinjaman!” seru saya.

“Ini, Bu KTN nanya jadi nggak nyewanya! Aku baru saja berhasil kontak,” kata adik saya. “Katanya, kalau nggak jadi, sudah ada yang mau menyewa.”

Terang saja. Jika disewa adik saya, per hari dikenakan 175 ribu rupiah. Harga langganan (tanpa sopir). Kalau penyewa biasa bisa kena 250-300 ribu rupiah. Apalagi kami rencananya menyewa selama 4 hari. Selisihnya banyak!

Dasar kapitalis!

“Sudah! Batalkan saja! Katakan kita sudah punya gantinya!” seru saya.

“Ya, mau ku-SMS kalau kita batal menyewa. Sekalian aku katakan, setelah ini kantorku tak akan berlangganan lagi sewa mobil kepadanya. Pelayanannya tidak memuaskan! Ribet! Dikiranya aku tidak bisa cari yang lain!” kata adik saya menahan kesal.

***

Demikianlah akhirnya saya mendapatkan pinjaman mobil dari Mas SB. Mobilnya juga jenis Xenia tipe Li Deluxe VVT-i 1000cc warna silver dengan tulisan “Deluxe” putih di atas dasar hitam yang tertera di pintu samping. Sama persis dengan Xenia sewaan yang dikirim ke rumah tadi pagi! Bedanya, mobil Mas SB bahkan plastik pembungkus jok tempat duduknya belum dibersihkan! Masih menempel! Subhanallah!

Dalam perjalanan ke Ponorogo kemudian saya tak henti mengulang kejadian pagi ini dengan istri dan adik saya. Bagaimana Allah mengganti mobil sewa dengan mobil pinjaman dari teman tidak dengan “begitu saja”. Ada prosesnya. Perlu tarik-urat segala. Jika saja KK asli itu ketemu dengan mudahnya sebelum anak muda itu pergi. Jika saja persewaan mobil dekat rumah itu sudah buka sebelum jam 7 pagi. Jika saja teman saya, Mas SB, mobilnya sedang dipakai. Jika saja salah satu terjadi, maka kejadian yang “indah” ini tak akan terangkai. Kami jadi tak perlu lagi mengeluarkan uang sewa setidaknya 800 ribu rupiah. Kami bahkan mendapatkan ganti mobil yang sama persis, merk dan tipenya, bahkan lebih baru!

“Bu KTN bolak-balik menghubungi HP-ku. Biarin aja! Mungkin dia menyesal karena sewa mobilnya tak akan dipakai kantorku lagi,” kata adikku sembari tersenyum penuh kemenangan. “Dia rupanya selama ini tidak tahu kalau keputusan sewa mobil itu ada di tanganku.”

Kami ikut tersenyum. Lalu dalam sebuah kesempatan, saya berbisik pada istri. “Ini mungkin balasan dari transfer sampean kemarin.”

“Transfer apa?”

“Kemarin itu lho! Transfer sampean ke pondok pesantren yatim di Bali yang tengah dirintis temanmu itu!”

Istri saya tersenyum setelah mengingatnya kembali. Shadaqah tak seberapa belum genap 24 jam yang lalu, kini diganti-Nya dengan begitu berlipat-lipat. Subhanallah! Walhamdulillah!

Wallahu a’lam.

***

Ket.

Gambar diambil dari http://warungmobil.com

Advertisements