Bedah Buku Takhta Awan di Museum Mpu Tantular Sidoarjo & Launching FLP Sidoarjo, Minggu 14 Agustus 2011

(Catatan Sinta Yudisia)

Waaau! {Ramadhan 3 pekan lalu…akibat kesibukan baru sempat terpublish J}

Senang sekali melihat semangat peserta yang ingin mendaftar dn bergabung dengan FLP Sidoarjo. Dari perkiraan tak sampai 100 orang yang hadir, peserta bisa mencapai lebih dari seratus orang. Ternyata Sidoarjo tidak hanya dikenal lewat Lumpur Lapindo, tapi juga semangat anak-anak, guru, orangtua, remaja bahkan TKW untuk bergabung dan berkiprah bersama FLP.

FLP tempat kita berbagi ilmu, berbagi cerita. Jika di tempat lain cerita hanya dituturkan lewat lisan, maka di FLP kita belajar menorehkan sesuatu yang lebih abadi jejaknya : tulisan. Mereka yang ingin bergabung di FLP ada yang memang benar-benar masih baru sekali dan melontarkan pertanyaan : bagaimana sih memulai menulis? Tetapi ada pula yang telah menghasilkan karya tulis, ingin lebih menajamkan pena dan tahu lebih jauh seperti apa jatuh bangun di dunia literasi.

Niat dan segmen pasar : mungkinkah?

Setiap penulis ingin karyanya best seller. Bicara best seller berarti karya kita dibaca banyak orang, disukai dan dibicarakan banyak orang. Tapi berarti kita harus menulis sesuai selera pasar. Padahal niat kita menulis untuk dakwah, menebar kebaikan, bukan sekedar selera pasar.

Mungkinkah niat baik dan selera pasar bersambut?

Jawabannya : ada di motivasi menulis yang disampaikan mas Haikal Hira Habibillah , ex ketua FLP Jatim.

Mas Haikal mendorong agar penulis dan calon penulis memulai niat yang baik karena Allah SWT untuk menebar kebaikan. Niat yang baik ini akan membuat orang terus bersemangat, nggak peduli karyanya ditolak dan dikritik sana sini. Coba, kalau ia nggak punya niat baik, sekali dikritik langsung melempem : ya udah deeeh…aku nggak Bakat nulis!

Dengan niat baik, kritik akan menjadi lecutan semangat yang luar biasa.

“Gimana sih nulis yang baik, yang mengalir supaya ceritaku tidak terkesan menggurui? Gimana ya cara menceritakan suka duka gadis berjilbab, tapi cerita ini harus renyah dan cair, jadi gak hanya bisa dinikmati remaja masjid tapi juga remaja gaul lainnya?”

Niat yang baik akan membuat penulis terus menerus memperbaiki diri sehingga dakwah tulisannya yang semula kaku dan dogmatis, berubah menjadi cerita indah yang memikat. Tetap ada kisah cinta, tetap ada ayat Quran atau hadits yang diselipkan, tetap ada nuansa masjid…tetapi di tangan penulis yang tidak kapok belajar, kisah yang tadinya remeh temeh jadi terasa waaaauw….memikat banget. Banyak lho anak FLP yang mulai mahir menulis apapuh kisah hikmah dalam kehidupan ini . Mereka ingin mendakwahkan nilai2 kehidupan : tentang bagaimana guru jangan sok kuasa, tentang bagaimana cara murid gokil tapi sopan mengkritik sistem sekolah, tentang  bagaiman menyikapi virus Merah Jambu. Bahkan ada adik FLP yang mulai berani menulis tema-tema yang tabu seperti kehidupan gay!

 

Pertanyaan seputar TAKHTA AWAN

Ada cara baru panitia untuk mengumpulkan pertanyaan peserta.

Biasanya peserta dipersilakan angkat tangan, dapat doorprize. Sekarang peserta yang berkenan bertanya dipersilakan menulis di kertas kecil, dikumpulkan, dipilih mana yang menarik. Banyak sekali pertanyaan menarik. dibawah ini beberapa di antaranya.

  • mengapa mb Sinta banyak cerita tentang Persia padahal sedang membahas Takudar (Mongolia)?
  • setau saya Takudar ádalah orang Majusi, salah satu dari 8 sahabat Jenghiz Khan. Majapahit pernah mengalahkan Mongolia, terbukti punya tanah di Mongolia!
  • mengapa harus Mongolia? Bukan yang lain?
  • saya bisa menulis, sudah menulis beberapa buku. Terus saya harus ngapain?
  • masih banyak yang lain….pertanyaannya harus dijawab di kelas Menulis FLP Sidoarjo!

 

Untuk menulis Mongolia atau sejarah suatu bangsa (misal Indonesia) tidak hanya perlu menggali ttg Indonesia sja tapi harus yg berkaitan dgn negeri tersebut. Belanda, Jepang, Portugis, Malaysia, Singapura pastilah terkait. Mongolia terkait dengan wilayah2 Islam salah satunya Persia. Ttg  Takudar yang penganut Majusi, mungkin saja. Sebab Mongolia menganut paham sama seperti orang2 Indian yang memberikan nama anak2nya berdasar peristiwa alam atau perlambang kehebatan. Banyak anak diberikan nama Altai (keemasan) atau Bataar (pahlawan). Nama Takudar bisa jadi pernah digunakan sebelum dan sesudah Takudar Muhamamad Khan. Yang saya tuliskan adalah Takudar yang sezaman dengan Kubilai Khan.

Mengapa Mongolia?

Itulah yang menimbulkan keingintahuan. Seorang penulis menulis karena ingin tahu, karena tidak tahu atau karena ia banyak tahu. Saya ingin sekali tahu lebih banyak tentang Mongolia dan para pahlawan muslimnya, makanya saya menuliskan tentang Takudar. Takudar itu bukan satu-satunya bangsawan Mongolia yang Muslim lho! Masih ada Baraka Khan, Ananda Khan. Banyak sekali mutiara sejarah kepahlawanan Islam yang belum terkuak dan belum dituliskan.

Tentang bagaimana memilih diksi, menulis yan gbik, kemana harus bergabung, apa yang dilakukan setelah selesai menulis…..bergabunglah bersama FLP!

Go FLP Sidoarjo!

 

 

mb heni paling kiri mas haikal konf pres

ilma, sinta yudisia, suci ys, shabrina.. Alhamdulillah…copy drat!

pesertaa yg melebihi target!

Advertisements