Catatan Ramadhan : yang Unik, Mengesankan, Mengesalkan

Oleh: Sinta Yudisia

 Masih ingat ramadhan tahun lalu?

Sebagian memory kita masih merekam apa-apa yang terjadi setahun silam, tetapi ada juga yang hilang dari ingatan. Saya pribadi masih ingat baju apa yang kami sekeluarga kenakan, sebab memang ada foto keluarga bersama saat menikmati hari raya di Tegal. Ramadhan selalu meninggalkan jejak mengesankan dari waktu ke waktu. Sayang sekali, banyak harapn dan target-target tak tercapai sesuai harapan kita. Akankah tahun ini berlalu sama seperti waktu lampau?

 

Quran yang Hilang

Ini bukan kata kiasan.

Saya suka membawa Quran kemana-mana : ke acara, ke kampus, ke lab.psikologi, dsb. Harapannya, saya bisa membaca Quran sewaktu ada jeda atau saat mengulang hafalan dan ada yang lupa, bisa membuka sesegera mungkin. Celakanya….saya orang yang banyak lupa! Entah sudah berapa kali beli Quran. Warna coklat, hijau, abu-abu, merah, biru; yang tanpa terjemahan atau ada terjemahan; yang besar atau yang kecil.

Saya termasuk enggan pinjam-pinjam Quran.

Tidak enak membaca Quran yang bukan punya kita. Sebagus apapun milik orang, saya lebih suka membaca Quran milik sendiri meski sudah usang. Di Quran pribadi ada banyak jejak pribadi : bacaan Quran, hafalan Quran, ayat-ayat yang mengesankan, kisah Nabi, ayat ilmu pengetahuan. Pendek kata, Quran kita menyimpan kebutuhan kita. Sementara Quraan orang lain mungkin tidak sama dimana batas-batas halaman yang kita butuhkan.

Suatu ketika,

saya mengisi acara di Dolly pas Ramadhan. Seperti biasa bawa Quran warna abu-abu kesayangan. Quran itu sudah cukup jelek : warnanya kusan, risletingnya rusak, halaman-halamannya bergelombang gak karuan karena pernah basah kuyup kehujanan. Tapi ….saya suka sekali!

Malangnya,

saya seringkali ingat untuk bawa Quran kemanapun tapi saya bahkan lupa atau nyaris tidak mampu ingat…..dimana Quran itu saya taruh dan hilang ya?

Yah, begitulah. Quran Abu-abu itupun hilang, dan saya juga nggak tahu, tepatnya dimana hilangnya. Dengan sedih memang harus beli Quran baru dan memulai hidup baru.

Setahun kemudian,

saya diundang lagi mengisi acara di daerah Dolly, di tempat yang sama di bulan Ramadhan. Alangkah senangnya ketika “Pak Sandro” ex mucikari berkata,”

“Mbak Sinta..ini Quran mbak kan?”

Wow!

Ternyata beliau menyimpan baik-baik Quran saya. Saya sempat berharap semoga Quran saya betul2 hilang di Dolly lalu ditemukan para PSK sana. Semoga, mereka menemukan cinta Allah SWT di tengah samudra kehidupan yg ganas ini. Kalaupun Quran itu kembali….Alhamdulillah juga.

Sahur yang Terlewat

Rasanya selalu saja ada hari-hari di antara Ramadhan yang kelewat sahurnya karena bablas. Biar bagaimnapun pasang alarm di beberapa HP, atau kerasnya suara adzan (ada 2 adzan kalau pas Ramadhan)….biar masjid ada di depan rumah; kalau lagi teler berat, bablas ya bablas saja!

Namanya ibu rumah tangga, semuaaaa tergantung sama sang ibu.

Walau udzur gak sholat, tetap sayalah yang berkewajiban bangun dan membangunkan. Apalagi klau memang pas lagi puasa….jangan harap da yang bangun lebih dahulu deh. Suami? Suami sigap memabntu di dapur, menyiapkan laukpauk atau membangunkan anak-anak. Tapi…jangan paksa ia bangun duluan! Selain capek, biasanya juga tidak sesensitif perempuan yang kalau sudah jam 02.30 atau 03.00 segera loncat melihat periuk nasi.

Gak sahur? Apa boleh buat.

Lapar? Gak terlalu.

Haus? Itu yang masyaAllah…betul-betul ujian. Mulut kering, leher kering, ludah sudah tidak mampu menawar dahaga. Apalagi, jarang sekali Ramadhan hujan. Kita sedang diperlihatkanNya sebagian irisan kecil Padang Mahsyar yang tandus, panas, membara.

Biasanya, kalau sudah lewat separuh Ramadhan dan anak-anak mulai tidak semangat sahur sementara mereka harus makan, saya paksakan diri dan suami untuk makan makanan cukup berat sebelum tidur. Entah roti, buah , susu. Syukur kalau anak2 yang sudah besar juga mau. Kalau besok mepet bangun, tinggal bilang,

”….nggak papa ya hari ini gak usah sahur? Sudah mepet, 5 menit lagi adzan. Mending banyak minum, kan semalam sudah makan yang berat-berat.”

InsyaAllah gak akan mati, gak kekurangan gizi meski gak sahur sehari- dua hari. Masih banyak orang di luar sana yang benar2 gak sahur dan juga gak buka.

 

Tarawih Setor Muka

Ramadhan memang excited sekali. Anak2 sudah membayangkaan ta’jil, tadarrus, tarawih, jalan –jalan shubuh, klontengan memabngunkan orang ”….sahuuuuuur! Sahur!! Tek-tek-tek!”

Tapi namanya anak-anak.

Ibadah mereka masih senang-senang.

Putri terkecil kami , Nisrina, sudah lama ikut puasa penuh. Sekarang ia kelas 3 SD. Sejak TK, bahkan kalau kami puasa sunnah ia ikutan. Kadang selesai, kadang batal. Niatnya masih niat yang lucu : karena ketika bertemu sepupu2nya saat lebaran, akan bangga sekali jika bilang ”eh, aku puasa penuh lho….!”

Puasa kuat. Sholat ke masjid kuat. Tadarrus di rumah kuat. Ta’jil kuat. Jalan-jalan Shubuh kuat. Satu yang ia suka tak tahan…jika ikut tarawih.

Awalnya, saya selalu mengambil shof terdepan. Ternyata bagi orangtua yang masih membawa anak kecil (meski SD dan masih dalam taraf belajar) lebih bik di belakang. Sebab tengah sholat Nis garus-garuk, goyang, meleng…ia sudah ngantuk berat. Alhasil saya nggak enak dengan ibu-ibu paruh baya yang tengah menikmati ibadah dengan khusyu. Biasanya ibu-ibu macam begini juga kurang suka bila ibadah terganggu. Sejak memutuskan untuk tidak ”mengganggu”, saya selalu di shof belakang yang memang ribut anak-anak.

”Nis ngantuk ya?” tanyaku.” Mau bobo di rumah?”

Ia menggeleng, meski matanya 5 watt.

Ia ikut jamaah isya, ikut 2 rakaat pertama …lalu biasanya tertidur di atas sajadah hingga selesai witir. Banyaknya nyamuk, rapatnya jamaah…seolah kenikmatan tersendiri memejamkan mata di tengah lautan manusia yang bermunajat sembari sayaup-syup mendengar khotbah tarawih.

Jadi, meski hanya setor muka sesaat di atas sajadah, Nis tampaknya lebih senang tertidur di antara jamaah tarawih di bandingkan di rumah.

 

Hafalan Quran

Karena sering kehilangan Quran, saya sadar, begitulah ruginya orang yang gak hafal Quran. Saya bayangkan andaikan, suatu saat tersesat di hutan selama sebulan, 6 bulan atau 1 tahun…ya sepanjang itu gak bakalbaca Quran. Beda dengan para ulama hafidz yang gak peduli jalan kaki, di atas unta, di atas kuda,di atas pesawat…terus aja baca Quran. Makanya gak heran para ulama bisa khatam lebih dri 5 atau 10 x dalam ramadhan!

Karena mata kita terpaksa membaca huruf dan itu juga mmebuat cepat ngantuk, jadilah baru membaca 2-3 lembar….berat banget mata ini.

Begitulah, saya bertekad : pokoknya tahun depan harus nambah 2 atau 3 juz, biar pas ramadhan lebih banyak membaca quran di sela2 aktivitas. Nyatanya, target hafalan adalah target yang jauh dari terpenuhi.

Alhamdulillah…untuk tahun ini 1 juz al Baqarah sudah hafal (kurang 1 halaman lagi…semoga cepat, amiiin). Rasanya bahagia sekali bisa menambah 1 juz hafalan. Terbayang nanti, insyaAllah….bisa membaca bab pertama Quran di mana saja. Semoga…bisa memenuhi target hafal 30 juz sebelum maut menjemput…amiiin.

 

Ayo Mandi!

Apa yang paling membuat seorang ibu cerewet setengah mati?

Mandi.

Di pagi hari, bisa kering bibir saat hari-hari biasa menyuruh anak-anak mandi.

“Ayo, cepetan! Sudah jam 5! Eeeh, jam setengah enam masih pada ngobrol? Siapa giliran mandi?”

Pagi susah mandi, sore juga demikian.

Tapi, tenang saja kalau Ramadhan. Anak-anak bisa mandi 2-3 x tanpa disuruh! Pakai keramas segala. Yang biasanya anti air, paling ogah mandi (saya juga gak tau….kenapa ya aktivitas mandi kok gak disukai anak-anak? Padahal mereka suka berenang XD); di ramadhan semua anak-anak bersih dan wangi, segar. Apalagi menjelang ta’jil harus bertemu banyak teman-teman. Malu juga kalau badan kucel dan mulut bau.

 

Very, very, very sensitive!

Yah, namanya lapar dan haus.

Orangtua mungkin bisa menahan emosi. Anak-anak?

Kesenggol sedikit bisa jadi perkara. Maka saya meminimalisasi terjadinya sekian banyak friksi.

”Ayo, yang pada tiduran dilantai, jangan tiduran dekat pintu tempat lewat orang. Ntar keinjak lho…”

Keinjak sedikit bisa jadi adu mulut kalau tidak saling menyenggol.

 

Sediakan Kertas dan Pensil, juga Buku Cerita

Kebetulan di Surabaya ada MMU (mizan media utama) distributor buku2 mizan dan lini2nya. Termasuk Takhta Awan, The Road to The Empire, dll. Di MMU Karah Agung, tersedia display buku-buku murah, mulai 3000 rupiah! Wah, belum lama saya hunting buku2 seperti trilogi Hiccup Horendeus Haddock , si penunggang naga. Banyak buku cerita anak2 dg harga murah yang bisa dipilih, sebagai alternatif mengisi waktu menjelang berbuka daripada melihat televisi.

Dan….

sediakan 1 rim kertas. Kebetulan anak-anak suka menggambar,  mereka bisa berjam2 menggambar.

Kalau anak-anak tenang, tentram dan damai; orangtua bisa ganti beristirahat atau membaca Quran. Kadang, jika tidak mampu me manage emosi, saat anak-anak berulah dan bertengkar, hilang sudah kesabaran dan pahala puasa kita. [ ]

Advertisements