Sensasi Kebangsaan

Leave a comment

Sensasi Kebangsaan

Oleh: Adam Muhammad

Kenalkah anda dengan nama-nama ini: Markis Kido, Simon Santoso, Maria Kristin, Vita Marissa atau Adriyanti firdasari? Bagaimana dengan nama-nama ini: Icuk Sugiarto, Liem swie king, Harianto Arbi, Susi Susanti, atau Mia Audina? Nama-nama yang disebutkan belakangan saya yakin semua kita amat mengenalnya. Namun dengan nama-nama awal saya tidak yakin rakyat Indonesia mengenal nama mereka dengan baik. Apalagi jika anda bertanya kepada anak-anak muda jaman sekarang manakah yang lebih mereka kenal antara Bambang Pamungkas dengan Hendra Setiawan?

Entahlah rasa-rasanya bangsa ini memang sedang mulai kehilangan jati dirinya. Bangsa ini sedang bingung. Bingung membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Krisis yang melanda Indonesia ternyata tidak hanya tentang moneter, tapi merembet ke bidang-bidang lain. Bahkan para ulama negeri ini sudah merasa ngeri dengan menurunnya moral bangsa ini.

Dahulu kita merasa amat bangga menjadi bangsa Indonesia. Kita adalah Negara yang swasembada pangan. Negara-negara tetangga seperti Malaysia pun belajar kepada bangsa ini. Dalam event SEA GAMES, Indonesia seringkali bertengger di puncak perolehan medali. Apalagi dengan cabang olahraga bulu tangkis, rasa-rasanya bangsa ini menjadi rajanya. Yaa…memang masih ada China yang selalu bergantian menggondol piala Thomas dan Uber.

More

Advertisements

Wisata Mutilasi

Leave a comment

Wisata Mutilasi

Oleh: Adam Muhammad

Kota Jombang yang adem ayem tiba-tiba menghiasi aneka media massa. Mulai dari Koran, majalah, tabloid, radio, televisi bahkan juga di dunia maya. Semua itu tidak lain dikarenakan salah seorang warganya membikin heboh jagat Indonesia. Ryan begitu nama lelaki yang menghebohkan itu. Seorang lelaki homoseksual yang dengan sadis menghabisi sebelas nyawa anak adam. Bahkan dia pun dengan tega memotong-motong salah satu korbannya. Sungguh perbuatan yang mengerikan.

Namun ternyata kehebohan pembunuhan berantai ini pelan-pelan menjadi semacam tontonan bagi masyarakat luas. Entah dengan alasan apa mereka berbondong-bondong mendatangi rumah si Ryan. Ada yang datang ke sana hanya sekedar ingin tahu lokasi pembantaian itu, ada yang penasaran apakah ada lagi korban yang ditemukan, ada yang geram melihat kelakuan Ryan hingga ingin melihatnya dari dekat.

More

17 Agustusan Tanpa Panjat Pinang

Leave a comment

17 Agustusan Tanpa Panjat Pinang

Oleh: Adam Muhammad

Panjat pinang yang menjadi lomba sangat menarik bagi masyarakat di setiap merayakan kemerdekaan RI tiba-tiba disarankan oleh wakil presiden RI untuk tidak dilakukan. Pak wakil presiden khawatir panjat pinang memiliki filosofi negatif yang berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat. Sungguh luar biasa pak wakil presiden kita saat ini, hingga masih sanggup menanggapi hal-hal seperti panjat pinang.

 Entah karena saran dari pak wakil presiden atau karena kurangnya dana, di daerah saya pun tak terdengar lomba ini diadakan warga. Padahal di tahun-tahun sebelumnya selalu saja saya mendengar lomba yang sangat menarik ini.

 Saya teringat lomba panjat pinang biasanya sangat ramai dinikmati oleh masyarakat. Para peserta membentuk beberapa kelompok untuk saling bekerjasama menggapai hadiah yang bergelantungan di atas pohon. Adegan semakin seru manakala para peserta berjatuhan dari pohon karena licinnya pohon itu. Maklum si pohon sudah dilumuri dengan gajih atau bahkan terkadang oli bekas. Para penonton pun terpingkal-pingkal melihat tubuh para peserta hitam legam berlepotan oli. Bahkan terkadang tanah di bawah pohon pinang itu diberi air hingga membuat tanahnya basah dan menambah kotor tubuh para peserta.

More

Infotainment Merambah Gedung DPR

Leave a comment

Infotainment Merambah Gedung DPR

Oleh: Adam Muhammad

Artis di Indonesia memang seringkali mengundang decak kagum para penggemarnya. Terlebih ketika sinetron mulai mendominasi tayangan televisi menggantikan telenovela yang dahulu amat digandrungi masyarakat Indonesia. Juga semenjak film bioskop mulai menjadi tuan di negeri sendiri, para artis seringkali menyapa penggemarnya dengan akting-aktingnya yang makin memikat.

Para artis itu mampu mengaduk-aduk perasaan penggemarnya. Para artis itu mampu “menyihir” penggemarnya hingga mereka menitiskan air mata dengan akting sedih yang memilukan hati. Para artis itu mampu membuat penggemarnya terbuai bahagia dan melupakan sejenak masalah sehari-hari yang dihadapi dengan akting segar nan memukau.

Itulah mengapa, insan media seringkali menamakan para artis itu adalah para public figure. Ini berarti mereka menjadi semacam “tipe ideal” gambaran masyarakat. Entah siapa yang memulai menyematkan artis sebagai public figure, yang jelas hingga saat ini masih ada pro dan kontra tentang hal itu.

More

Hidup Adalah Iklan

Leave a comment

Hidup Adalah Iklan

Oleh: Adam Muhammad

Saya langsung teringat pada nasib ribuan bahkan jutaan rakyat Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan ketika membaca berita di harian Surya beberapa saat yang lalu. Headline berita itu yang berbunyi “Belanja iklan tembus Rp 19,56 Triliun” langsung menarik minat mata saya untuk membacanya. Diberitakan AC Nielsen mencatat belanja iklan di media massa Indonesia pada semester I 2008 naik 24% dibanding periode sama 2007 dengan total Rp 19,56 triliun. Dan yang membuat saya mengelus dada adalah salah satu kenaikan terbesar terjadi pada iklan pemerintahan dan partai politik yang mencapai 79%.

 Anda bisa bayangkan berapa milyar lagi yang akan digelontorkan oleh partai politik untuk mengiklankan dirinya seiring semakin dekatnya pemilu 2009. Iklan pun akan semakin bertebaran tidak hanya di media massa tetapi juga di jalan-jalan, di kaca mobil, di pohon-pohon kota dan media lain. Dan jangan pula heran melihat sekarang tiba-tiba muncul wajah-wajah yang ingin mengenalkan dirinya kepada publik dengan background partainya masing-masing.

More

Guru Pun Harus Belajar

2 Comments

Guru Pun Harus Belajar

Oleh: Adam Muhammad

Membaca tulisan saudara Fathoni di kolom warteg beberapa saat lalu yang berjudul “Jangan mau dikibulin siswa” membuat saya menyadari betapa belajar itu memang sepanjang hayat. Bahkan kita yang sudah menjadi guru pun tidak boleh merasa jumawa dan akhirnya menghentikan proses belajar untuk menimbun ilmu pengetahuan di otak kita.

 Saya sendiri yang menjadi tentor di lembaga bimbingan belajar merasakan hal yang sama dengan apa yang dialami oleh saudara Fathoni. Bahkan mungkin apa yang dialami oleh teman-teman yang mengajar di lembaga bimbingan belajar lebih sedikit berat dibandingkan guru sekolah formal. Tentu saja hal ini dikarenakan situasi dan suasana di bimbingan belajar yang lebih santai hingga kedekatan siswa lebih terasa.

 Di sebuah sekolah, mungkin seringkali guru dapat menggunakan wewenangnya untuk menenangkan kelas. Namun tidak begitu dengan di bimbingan belajar, para tentor dituntut untuk memberikan metode pengajaran yang semenarik mungkin hingga mampu menyedot perhatian si murid. Apabila sang tentor tidak mampu “memuaskan” dahaga ilmu para murid tentu saja murid-murid itu akan ramai sendiri di kelas.

More

Bencanatainment

Leave a comment

Bencanatainment

Oleh: Adam Muhammad

Ketika anak manusia terlelap dalam tidurnya, air bah Situ Gintung di Tangerang Banten menerobos tanggul yang sudah rapuh dimakan usia. Pagi itu, jum’at 27 Maret 2009 sekitar pukul 4 pagi hari, suara menggelegar memecah kesunyian. Tiba-tiba saja air melimpah ruah “menghajar” masyarakat sekitar Situ Gintung. Suara jeritan terdengar di mana-mana. Suara serak bapak memanggil-manggil istri dan anak-anaknya. Si anak kecil berteriak histeris memanggil orang tuanya yang entah ke mana?

 Jum’at pagi yang begitu kelam. Seratus lebih nyawa anak manusia terenggut. Puluhan lainnya dilaporkan hilang. Ratusan rumah tempat indah berteduh selama ini hancur porak poranda menyisakan kepingan-kepingan kayu tak bermakna. Orang tua kehilangan anaknya. Suami kehilangan istrinya. Istri harus menahan sedih ditinggal suaminya. Seorang bocah limbung ditinggal keluarganya. Air mata di mana-mana.

More

Older Entries Newer Entries